
Pengantar Buku Kumpulan Cerpen
Di atas Tumpukan Jerami
Karya Muhajir Arrosyid
Judul : Kumpulan Cerita Pendek Di Atas Tumpukan Jerami
Penulis : Muhajir Arrosyid
Penerbit: Kontak Media
Tebal: 100 Halaman
NARASI KAMPUNG UNTUK INDONESIA
Harjito
Pengamat Sastra Media
Sastra Indonesia menggeliat dahsyat bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Soeharto yang tidak banyak memberi ruang kebebasan dan kreatifitas.
Paska 1998 masyarakat kita seperti mendapatkan suntikan oksigen. Bukan hanya kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga dalam berekspresi. Dalam suasana demikianlah bertaburan tabloid-tobloid dengan gambar atau foto dan narasi yang lebih menyuarakan kebebasan. Termasuk kebebasan berbusana dan seksual.
Modernitas dan Dukun Tiban
Kebebasan bersilangan dengan modernitas dan globalisasi yang melesak dalam kehidupan masyarakat. Modernitas terlihat dalam simbol, benda, dan gaya. Café, mall, handphone, internet ditambah isu yang semakin seksi: feminisme. Perempuan bukan saja bergantung pada ekspresi lelaki. Namun, mengekspresikan dirinya sendiri dan menulis sebagai keberadaannya. Teks yang muncul misalnya Jangan Main-Main dengan Kelaminmu karya Jenar Maesa Ayu atau Larung dan Saman tulisan Ayu Utami. Masih banyak judul-judul lain yang sejenis.
Dalam kesemarakan itu Di atas Tumpukan Jerami karya Muhajir Arrosyid hadir. Ia mengembalikan kerinduan dan naluri kita akan alam semesta. Sesuatu yang berwajah kampung. Sepenggal kisah yang pelosok.
Dalam “Selantun Mimpi” Muhajir merekam masyarakat tahun 2009-an yang kepengen menjadi selebritis: cepat terkenal dan kaya. Tokoh Lita, murid SMP, bingung harus memilih tetap sekolah atau menjadi artis dangdut.
Mengenai kenangan masa kecil dikorek dalam “Pohon Waru di depan Rumah”.
Peristiwa kedua adalah saat musim penghujan. Kali kecil itu mengalirkan sampah-sampah sawah menuju aliran sungai yang lebih besar. Aku dan teman-teman gebyuran di sana. Naik pohon waru dan meloncat menuju aliran sungai. Aku tenggelam terbawa arus sampai jauh. Meskipun dua kali akan merenggut nyawaku, pohon waru tetaplah sahabatku.
Gaya kanak-kanak yang lugu dan polos muncul lagi dalam “Menggambar Bulan dalm Gendongan”. Fis digambarkan begini:
Fis, lelaki kecil itu bertubuh mungil hitam tanah, jarang mandi. Dengan kaos tak penah dicuci. Rambut kriting kumal, kudis rata di siku tangan dan lutut kaki. Fis tinggal bersama bapaknya. Ibunya yang juga tuna wicara pergi entah kemana. Tempat tinggal Fis lebih tepat dibilang kandang kerbau. Atau kandang sapi , atau bahkan boleh dibilang sarang tikus.
Muhajir dalam kumpulan ini menyajikan kampung ndeso. Kamar yang bau. Dukun tiban.
Setelah itu tersiar kabar bahwa Fis adalah anak yang membawa peruntungan. Setelah itu orang-orang kampung juga mengaku-ngaku dulu setelah rumahnya digambari oleh Fis juga dapat peruntungan.
…
Minggu kemarin rumah yang digambari Fis dapat undian mobil, minggu kemarinya rumah seorang perawan tua setelah di dinding rumahnya digambari Fis paginya dilamar jejaka kaya ganteng lagi.
Atau sepenggal kesederhanaan yang masih ada di sekitar kita dalam “Gelengan Kepala”
Saat ketemu secara tidak sengaja di pasar malam, Sun histeris melihatku. Digandengnya tanganku menuju bakso urat. Aku deg-degan saat itu. Aku perlu menghitung dulu isi kantong. Hatiku lega saat Sun bidang begini,”Aku yang traktir.”
Seorang aku yang tidak sanggup untuk mentraktir bakso urat di pasar malam. Bandingkan dengan orang Indonesia yang masuk dalam kelas orang terkaya di dunia. Juga bandingkanlah dengan wakil rakyat yang lebih ribut soal studi banding ke luar negeri dan fasilitas mobil mewah agar bisa menyuarakan kepentingan rakyat.
Ending : Melawan Kota Besar
Kelebihan Muhajir adalah ending. Ending yang terbuka dan tak terduga. Menyentak. Kita masih saja bengong dan terus bertanya padahal cerita sudah ditutup. Rasakanlah di setiap cerita.
Muhajir Arrosyid bukanlah pengarang tiban. Ia menulis dalam segala kesadarannya. Ia lahir dan tinggal di sebuah kampung Karangawen, Demak. Arah ke timur dari Semarang. Dia cenderung pendiam serta suka mengamati. Apa saja. Mencatat segala peristiwa. Dalam tulisan. Apa yang di pusaran masyarakat direnungkan, direkam, dan dikonstruksi.
Sebagaimana dipahami, masyarakat Indonesia berada di pusaran simbol-simbol modern yang terus memenggerus dalam wujud iklan, kampanye, pidato yang disebarluaskan melalui radio, koran, dan media berpengaruh televisi. Acara televisi sehari-hari menawarkan impian selebritis: menjadi kaya dan bahagia hanya dengan mengirim short message service (sms). Sinetron penuh lalu lalang dan bersliweran para tokoh dengan ciri kesukaan masyarakat populer: ganteng, berdasi, wangi, cantik, rumah besar dengan kolam renang, atau mobil sangat bagus. Sinetron adalah mimpi terpendam kita: kekaguman luar biasa atas Jakarta atau kota-kota besar di dunia, kebingungan kita atas kemewahan: lampu merkuri, bir, lipstik.
Muhajir tidak memamerkan cerita itu. Ia menyentuh barang-barang keseharian dan lokal menjadi sesuatu yang menarik. Inilah daya pikat dia. Menuturkan kehidupan. Bukan dari sudut pandangan gemerlap. Melalui tokoh-tokohnya, ia menelisik dari lorong-lorong sawah dan kampung. Sebuah narasi kampung untuk Indonesia. Sebuah perlawanan atas narasi-narasi besar yang bermula dari sebuah pelosok kampung.
Muhajir Arrosyid dengan Di Atas Tumpukan Jerami menyeruak justru ketika menampilkan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang sekarang ini hampir habis diberangus kapitalisme globalisasi. Akhir kata, selamat membaca.