Di Atas Tumpukan Jerami

Posted in Karya on Maret 2, 2009 by lembarrenung

 Di atas Tumpukan Jerami

Pengantar Buku Kumpulan Cerpen

Di atas Tumpukan Jerami

Karya Muhajir Arrosyid

 

 

Judul : Kumpulan Cerita Pendek Di Atas Tumpukan Jerami

Penulis : Muhajir Arrosyid

Penerbit: Kontak Media

Tebal: 100 Halaman

 

NARASI KAMPUNG UNTUK INDONESIA

Harjito

Pengamat Sastra Media

 

Sastra Indonesia menggeliat dahsyat bersamaan dengan runtuhnya kekuasaan Soeharto yang tidak banyak memberi ruang kebebasan dan kreatifitas.

Paska 1998 masyarakat kita seperti mendapatkan suntikan oksigen. Bukan hanya kebebasan menyampaikan pendapat, tetapi juga dalam berekspresi. Dalam suasana demikianlah bertaburan tabloid-tobloid dengan gambar atau foto dan narasi yang lebih menyuarakan kebebasan. Termasuk kebebasan berbusana dan seksual.

 

Modernitas dan Dukun Tiban

Kebebasan bersilangan dengan modernitas dan globalisasi yang melesak dalam kehidupan masyarakat. Modernitas terlihat dalam simbol, benda, dan gaya. Café, mall, handphone, internet ditambah isu yang semakin seksi: feminisme. Perempuan bukan saja bergantung pada ekspresi lelaki. Namun, mengekspresikan dirinya sendiri dan menulis sebagai keberadaannya. Teks yang muncul misalnya Jangan Main-Main dengan Kelaminmu karya Jenar Maesa Ayu atau Larung dan Saman tulisan Ayu Utami. Masih banyak judul-judul lain yang sejenis.

Dalam kesemarakan itu Di atas Tumpukan Jerami karya Muhajir Arrosyid hadir. Ia mengembalikan kerinduan dan naluri kita akan alam semesta. Sesuatu yang berwajah kampung. Sepenggal kisah yang pelosok.

Dalam “Selantun Mimpi” Muhajir merekam masyarakat tahun 2009-an yang kepengen menjadi selebritis: cepat terkenal dan kaya. Tokoh Lita, murid SMP, bingung harus memilih tetap sekolah atau menjadi artis dangdut.

Mengenai kenangan masa kecil dikorek dalam “Pohon Waru di depan Rumah”.

Peristiwa kedua adalah saat musim penghujan. Kali kecil itu mengalirkan sampah-sampah sawah menuju aliran sungai yang lebih besar. Aku dan teman-teman gebyuran di sana. Naik pohon waru dan meloncat menuju aliran sungai. Aku tenggelam terbawa arus sampai jauh. Meskipun dua kali akan merenggut nyawaku, pohon waru tetaplah sahabatku.

 

Gaya kanak-kanak yang lugu dan polos muncul lagi dalam “Menggambar Bulan dalm Gendongan”. Fis digambarkan begini:

Fis, lelaki kecil itu bertubuh mungil hitam tanah, jarang mandi. Dengan kaos tak penah dicuci. Rambut kriting kumal, kudis rata di siku tangan dan lutut kaki. Fis tinggal bersama bapaknya. Ibunya yang juga tuna wicara pergi entah kemana. Tempat tinggal Fis lebih tepat dibilang kandang kerbau. Atau kandang sapi , atau bahkan boleh dibilang sarang tikus.

 

Muhajir dalam kumpulan ini menyajikan kampung ndeso. Kamar yang bau. Dukun tiban.

Setelah itu tersiar kabar bahwa Fis adalah anak yang membawa peruntungan. Setelah itu orang-orang kampung juga mengaku-ngaku dulu setelah rumahnya digambari oleh Fis juga dapat peruntungan.

Minggu kemarin rumah yang digambari Fis dapat undian mobil, minggu kemarinya rumah seorang perawan tua setelah di dinding rumahnya digambari Fis paginya dilamar jejaka kaya ganteng lagi.

 

Atau sepenggal kesederhanaan yang masih ada di sekitar kita dalam “Gelengan Kepala”

 

Saat ketemu secara tidak sengaja di pasar malam, Sun histeris melihatku. Digandengnya tanganku menuju bakso urat. Aku deg-degan saat itu. Aku perlu menghitung dulu isi kantong. Hatiku lega saat Sun bidang begini,”Aku yang traktir.”

 

Seorang aku yang tidak sanggup untuk mentraktir bakso urat di pasar malam. Bandingkan dengan orang Indonesia yang masuk dalam kelas orang terkaya di dunia. Juga bandingkanlah dengan wakil rakyat yang lebih ribut soal studi banding ke luar negeri dan fasilitas mobil mewah agar bisa menyuarakan kepentingan rakyat.

 

Ending : Melawan Kota Besar

Kelebihan Muhajir adalah ending. Ending yang terbuka dan tak terduga. Menyentak. Kita masih saja bengong dan terus bertanya padahal cerita sudah ditutup. Rasakanlah di setiap cerita.

Muhajir Arrosyid bukanlah pengarang tiban. Ia menulis dalam segala kesadarannya. Ia lahir dan tinggal di sebuah kampung Karangawen, Demak. Arah ke timur dari Semarang. Dia cenderung pendiam serta suka mengamati. Apa saja. Mencatat segala peristiwa. Dalam tulisan. Apa yang di pusaran masyarakat direnungkan, direkam, dan dikonstruksi.

Sebagaimana dipahami, masyarakat Indonesia berada di pusaran simbol-simbol modern yang terus memenggerus dalam wujud iklan, kampanye, pidato yang disebarluaskan melalui radio, koran, dan media berpengaruh televisi. Acara televisi sehari-hari menawarkan impian selebritis: menjadi kaya dan bahagia hanya dengan mengirim short message service (sms). Sinetron penuh lalu lalang dan bersliweran para tokoh dengan ciri kesukaan masyarakat populer: ganteng, berdasi, wangi, cantik, rumah besar dengan kolam renang, atau mobil sangat bagus. Sinetron adalah mimpi terpendam kita: kekaguman luar biasa atas Jakarta atau kota-kota besar di dunia, kebingungan kita atas kemewahan: lampu merkuri, bir, lipstik.

Muhajir tidak memamerkan cerita itu. Ia menyentuh barang-barang keseharian dan lokal menjadi sesuatu yang menarik. Inilah daya pikat dia. Menuturkan kehidupan. Bukan dari sudut pandangan gemerlap. Melalui tokoh-tokohnya, ia menelisik dari lorong-lorong sawah dan kampung. Sebuah narasi kampung untuk Indonesia. Sebuah perlawanan atas narasi-narasi besar yang bermula dari sebuah pelosok kampung.

Muhajir Arrosyid dengan Di Atas Tumpukan Jerami menyeruak justru ketika menampilkan sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang sekarang ini hampir habis diberangus kapitalisme globalisasi. Akhir kata, selamat membaca.

Simpang Lima Semarang

Posted in Pendapat on Oktober 11, 2008 by lembarrenung

PASAR MINGGU PAGI SIMPANG LIMA

Harjito

 

INGAT Semarang ya ingat Simpang Lima. Bagi saya SPA, selain bermakna Semarang Pesona Asia, juga memiliki arti lain yaitu Simpanglima Pesona Asia.

Simpang Lima sungguh tak asing bagi warga Semarang. Jika Anda termasuk kalangan yang sangat sibuk sehingga tidak punya waktu untuk sedikit menghirup udara segar Lapangan Pancasila, sesekali sempatkanlah sekedar jalan-jalan ke sana sebagai salah satu cara memperingati hari jadi kota Semarang ke- 461.

            Sore, di hari biasa, kadang ada beberapa anak-anak main sepakbola di Lapangan Pancasila. Malam tahun baru? Jangan harap bisa ke sana kalau telah melewati pukul 19.00. Saya pernah ke luar rumah jam 17.30 hendak sekedar iseng ke sana. Ternyata, sudah berduyun-duyun anak muda alias abg dalam dandanan yang warna-warni menyerbu kawasan tersebut. Luar biasa magnet yang memancar dari Simpang Lima Semarang.

 

Pasar Minggu Pagi

GAMBARAN kota bagi orang Jawa pada masa lalu terdiri atas perkantoran, untuk mengurus adminstrasi pemerintahan, pusat keramain, dan pasar. Sekarang Semarang dalam pertumbuhan menjadi masyarakat modern dan masih menyisakan beberapa kebudayaan tradisional.

Tumbuhnya  Hotel Ciputra dan Citraland, Pusat Perbelanjaan Matahari, Ramayana, Court, atau bioskop Plaza.  menandai perkembangan.  itu bersamaan dengan dibutuhkannya pasar tradisional. Pasar Minggu pagi di Simpang Lima mewakili kebutuhan masyarakat akan pusat keramaian dan pasar tradisional

Malam Minggu dan minggu pagi merupakan hari yang sibuk di Simpang Lima. Di malam minggu, mulai sore denyut kehidupan sudah terasa. terutama manakala ada tontonan. Semua orang tumpah ruah memadatinya. Dari mulai yang jalan kaki sampai naik mobil. Terutama pengendara motor. Sepanjang Jalan Pahlawan anak-anak muda kongkow melepas kepenatan.   

Keramaian tadi berlanjut sampai minggu pagi sekitar jam 8. Simpang Lima memang berubah menjadi pasar malam sekaligus pasar pagi. Segala macam barang bertaburan. Dari mulai yang sepele sampai kasur busa atau kendaraan bermotor mencoba keberuntungan.

Pakaian anak-anak, pakaian dalam perempuan, sepatu, campur aduk dengan penjual pigura, majalah bekas, termasuk penjual makanan atau tanaman. Jual racun tikus pun ada. Seingat saya seorang laki-laki muda.

Seorang tetangga, guna meredakan rengekan sang anak, menyempatkan naik kereta kuda. “Daripada ke Bandungan, Mas, ” tuturnya. Atau sekedar mencari binatang piaraan ikan,  kura-kura, atau kelinci, mampir saja ke pasar minggu pagi di Simpang Lima.  

Pengalaman pribadi yang berkesan adalah buku murah dan kaset. Saya mendapatkan kaset asli Leo Kristi Nyanyian Fajar dan Nyanyian Malam dengan harga yang boleh dikata murah. Juga kaset dagelan mataraman Basiyo dan Junaedi. Seorang sahabat baru saja memperoleh buku karya Soekarno Di bawah Bendera Revolusi, juga dengan harga yang relatif terjangkau.

Untuk buku ini, memang kita harus datang agak pagi karena beberapa pelanggan tetap juga suka berburu buku bagus dengan harga murah.  Majalah dan tabloid bekas tinggal mencarinya di beberapa tempat.              

Sebagaimana pasar tradisional, daya tariknya adalah kepandaian tawar-menawar di sela-sela keramaian dan senggol menyenggol dengan pengunjung lain. Kita mesti rela berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Dari sentuhan parfum mahal sampai bau keringat sehabis lari pagi, dan ternyata asyik juga.

 

Wisata Belanja

PASAR Minggu pagi di Simpang Lima sebagai sarana interaksi serta hiburan keluarga dan masyarakat  selayaknya diperhatikan Pemerintah Kota Semarang dalam mengelola kawasan Simpang Lima.

            Harusnya pasar Minggu pagi ini tidak hanya dilihat sebagai kesemrawutan belaka namun juga harus ditangkap sebagai potensi. Pola pemikiran yang mendasari anggapan bahwa pasar Minggu pagi Simpang Lima sebagai kesemrawutan karena menganggapnya tidak sinergi dengan pembangunan yang lain.

Mengkaitkannya dengan Tahun Wisata, sebagaimana dimaklumi,  pariwisata  bukanlah  program  seketika.   Dibutuhkan kesadaran terus-menerus dari semua pihak. Yang paling utama, kesadaran ini bukan hanya keinginan sepihak dari Pemkot, tetapi juga dirasakan  kebutuhannya oleh segenap masyarakat. 

            Sebagai tempat wisata belanja semacam Malioboro Yogyakarta,  kawasan Simpang Lima sangat cocok.  Dapat kita rancang mulai seputar Simpang Lima, dilanjutkan ke Jalan Pandanaran, sampai dengan depan Toko Merbabu, belok kiri ke Jalan Pandanaran II, terus melingkar ke sebagian jalan Pahlawan dan balik kembali ke Simpang Lima. 

Alternatif lain, dari Simpang Lima berlanjut ke Jalan Pandanaran sampai dengan Tugu Muda.     Memang diperlukan peningkatan pembenahan, misalnya, pedagang-pedagang yang menjajakan barang-barang souvenir yang bercorak serta berciri Semarang atau Jawa Tengah. Kebersihan, keamanan, tempat parkir merupakan faktor lain karena menimbulkan kenyamanan dan nilai lebih kepada para pengunjung.  

Sesudah jalan-jalan di pasar tradisional, para pengunjung dapat melanjutkannya ke mal atau hotel. Begitu juga sebaliknya. Antara mal dan pasar tradisional tidak harus saling meniadakan satu sama lain, tetapi justru bisa saling bersinergi.

Ingat Semarang ya ingat Simpang Lima.

 

*******

Drs. Harjito, M.Hum, Ketua Program Studi Pend. Bhs. & Sastra Indonesia IKIP

PGRI  Semarang.

Alamat kantor: Jl. Lontar no. 1 Semarang 50242. Hp 081 2251 9899

Email    : harjitoian@yahoo.co.id  ; harjitoian@gmail.com     

RUANG PUBLIK

Posted in Pendapat on Oktober 11, 2008 by lembarrenung

RUANG EKSOTIK POLDER TAWANG

Harjito

 

Ke mana keluarga Anda mengici acara liburan sekolah? Cobalah merasakan malam hari di  Polder Tawang Semarang.

Polder Tawang berada di Kawasan Kota Lama.  Diharapkan Polder Tawang sebagai tempat wisata air. Air dengan gemericiknya adalah sesuatu yang menenangkan sekaligus membawa aura kesejukan.

Polder atau  kolam raksasa Tawang terletak persis di depan Stasiun Tawang.  Menurut fungsinya Polder Tawang merupakan suatu sistem untuk memproteksi air limpahan dari luar kawasan dam mengendalikan muka air yang berada di Kota Lama. untuk mengurangi genangan air atau banjir atau rob.

Polder dipasangi pompa air yang dihubungkan pada saluran air di perkampungan. Begitu rob meninggi, air dibuang ke saluran menuju pantai. Luasnya kira-kira 1 hektar dengan daya tampung 30.000 m3.

 

Keheningan

SEBUAH kota, menurut Wijanarka, disebut demokratik jikalau memiliki ruangan yang disebut ruang publik (publik space). Ruang publik, dalam sejarah kota,  sudah ada sejak zaman Romawi yaitu  abad 2 SM yang merupakan kerajaan demokrasi.

Dalam ruang publik masyarakat kota dapat menyampaikan pendapat maupun kritik terhadap seseorang yang sedang berkuasa melalui anggota senat kerajaan. Dalam perkembangannya, ruang demokrasi yang dikenal dengan roman forum di abad pertengahan  menjadi square, di zaman renaisance  menjadi piazza. Kini menjadi ruang-ruang kota yang berfungsi sebagai ruang publik.

Artinya, ruang pun berkembang bukan hanya berfungsi sebagai ruang demokrasi. Namun, juga sebagai tempat bertemu, berinteraksi, atau ngrasani-nya masyarakat guna melakukan kontak sosial, berolahraga, berekreasi, bahkan berpolitik. 

Keberadaan Polder Tawang di depan stasiun Kereta Api Tawang sangatlat strategis. Dengan jumlah penumpang kereta yang turun dan naik, Polder Tawang dapat menjadi area singgah sejenak atau semacam ruang tunggu untuk melepas lelah. Fasilitas MCK, mandi cuci kakus, cukup memadai untuk masyarakat yang “gampang pipis”.

Polder Tawang berada di Kawasan Kota Lama yang dipersiapkan sebagai area city walk, dimana masyarakat dapat berjalan kaki dengan nyaman. City walk semestinya merupakan  surga bagi para pejalan kaki. Di sisi lain, city walk berguna untuk mengurangi kepadatan lalu lintas.

Masuk city walk kota lama, malam hari, dari jalan Mataram ke jalan Merak menyaksikan gedung-gedung tua peninggalan zaman Belanda seperti menyusuri lorong waktu. Yang paling seketika terasa adalah kesenyapan dan keheningan. Begitu pula kalau kita menyisir jalan Pemuda dan melalui  Jembatan mBerok.

 Memandang Stasiun Tawang dari seberang polder, sore hari, langit berwarna biru kemerahan.  Lambat laun malam mulai merapat. Gemericik air dari beberapa pancuran membuat suasana romantis. Jalan dengan pasangan  paving block memberi nuansa syahdu dibandingkan jalan beraspal.

Tak heran banyak remaja berpasangan bersendau gurau di bangku-bangku semen yang telah tersedia. Beberapa keluarga juga memanfaatkannya. Termasuk generasi kakek nenek kita. Kadang ada dua mobil. Agak berjauhan. Masing-masing dengan player organ dan penyanyi lokal mendendangkan lagu-lagu.

Penonton bisa dihitung dengan jari tangan. Tidak seperti pertunjukkan dangdut yang sering ribut, di sini jauh dari pertengkaran. Beberapa anak-anak naik sepeda berputar-putar penuh ceria.

 

Eksotik

KENYAMANAN di polder Tawang belumlah mencapai taraf surga. Semarang dikenal dengan kota atas dan kota bawah. Polder Tawang berada di kota bawah.

Sudah menjadi rahasia umum, kota bawah terkenal panas. Gangguan berikutnya berupa bau air polder yang seringkali menyengat hidung.  Karenanya, Polder Tawang di Kawasan Kota Lama perlu ditingkatkan lagi penampilannya.

Pertama, saya merasakan taman bermain terlalu sempit. Anak-anak tidak dapat bermain dengan leluasa. Alat-alat permainan juga kurang. Hanya tersedia 3 ayunan, 1 timbangan jungkat-jungkit, dan 1 alat panjat setengah lingkaran. Di area ini tak ada tempat duduk untuk orang tua yang hendak menunggui putra-putrinya.

Padahal, karakter wisata orang Semarang adalah dengan mengajak keluarga, bukan sendirian. Karena kurang luas, jalan yang terletak di antara taman dan gedung kantor Perum Kereta Api Daerah Operasi 4 Semarang acap dijadikan lapangan sepak bola bagi anak-anak  SD.

Kedua, penambahan pohon untuk menghijaukan sekaligus menyejukkan. Beberapa pohon palem menurut saya tidak cocok untuk kondisi Semarang. Palem memang indah dilihat tetapi tidak meneduhkan. Bumi Indonesia memiliki dua musim yang berbeda dengan Eropa atau Amerika. Keteduhan jauh lebih dibutuhkan di Semarang.  

Ketiga, Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) perlu lebih menggalakkan  kegiatan-kegiatan di Polder Tawang. Tidak harus besar. Boleh juga kegiatan kecil, seperti lomba joging, jalan sehat, senam, atau sepeda santai  terutama di pagi atau sore hari. Di pagi hari tiupan angin yang meriakkan air polder sanggup melenakan mata menjadi mengantuk.

Semburan cahaya yang memancar dari lampu, sinar bulan selepas sore, aroma gedung-gedung tua peninggalan Belanda, semilir angin, dan keheningan riak-riak air pastilah memikat keluarga kita. Polder Tawang adalah ruang publik eksotik yang akan menambah semarak ikon kota Semarang.

 

*******

Drs. Harjito, M.Hum, Ketua Program Studi Pend. Bhs. & Sastra Indonesia IKIP

PGRI  Semarang.

Alamat kantor: Jl. Lontar no. 1 Semarang 50242. Hp 081 2251 9899

Email    : harjito96@yahoo.co.id  ; harjitoian@gmail.com     

MORALITAS REMAJA

Posted in Pendapat on Oktober 11, 2008 by lembarrenung

PELAJAR BUGIL DI JAWA TENGAH

 

——————————————————————————————————–

Harjito

ADA tiga kerawanan yang patut dicermati berkait keberadaan pelajar di era  globalisasi. Pertama, narkoba. Kedua, kekerasan. Ketiga, pornografi. Tulisan ini berfokus pada kerawanan pornografi. Pornografi mencakup foto bugil dan film porno.

Koran tercinta ini (SM/17/7/08 & 24/7/08), misalnya, memberitakan razia pihak terkait karena maraknya foto dan film porno di hp pelajar kota Semarang. Berikutnya, di Demak, kota yang dikenal sebagai kota wali, dihebohkan oleh beredarnya foto bugil salah satu siswi SMA. Diperkirakan 200 pose beredar di kalangan siswa ( SM, 22/7/08).

Beberapa bulan sebelumnya di Kabupaten Klaten sempat beredar video porno yang melibatkan siswi SMP. Film itu berdurasi tiga menit yang menggambarkan adegan tak pantas antara seorang remaja putri yang diduga siswi SMP dan seorang pria paruh baya (SM, 26/2/08).

Data tersebut, setidaknya,  dapat memberi gambaran awal. Jika ditilik lebih jauh hal tersebut bukan kasus pertama di Indonesia.

Sony Set (2007) mencatat vcd sejenis yang merupakan produk lokal Indonesia. Juli tahun 2000 beredar Anak Ingusan berdurasi 13 menit. Lokasi pembuatan film diperkirakan di Tretes, Jawa Timur. 

Bandung Lautan Asmara muncul di tahun 2001. Pelakunya pemuda berumur 20 dan pemudi 19 tahun. Film ini diprediksi telah dikopi 15 juta keping dan diunduh 30 juta kali sejak 2001. Berikutnya Medan Lautan Asmara dan Gadis Baliku. 

            Berdasarkan informasi dari mulut ke mulut masih ada vcd serupa. Gambar atau foto bugil remaja dan pelajar Indonesia pun banyak beredar di hp dan internet.

 

Gagap

BEBERAPA faktor menyebabkan maraknya kebugilan dan kepornoan di dunia pelajar. Pertama, Diakui atau tidak, banyak kalangan masih gagap dengan teknologi yang berkembang sangat cepat, misalnya hanya dengan menggunakan hp kita bisa merekam bukan hanya audio tetapi juga visual.

Selain karena iseng, kita sering kurang menyadari bahwa file yang ada dalam hp dapat dikirim, dicuri, dikopi, dan disebarluaskan entah sengaja maupun tidak ke publik.

Kedua, faktor ekonomi. Baik kemiskinan maupun kemakmuran sama-sama memiliki sumbangan atas topik ini. Sudah lazim apabila kemiskinan menjadi penyebab segala persoalan.

Namun, peningkatan kemakmuran juga menyebabkan barang-barang yang dulu tak terbeli menjadi mudah dimiliki. Apalagi dengan semakin murahnya produk-produk tersebut. Dengan tiga ratus ribu kita dapat memiliki pemutar vcd, sementara keping vcd mudah diperoleh dengan  lima atau sepuluh ribu rupiah.

Ketiga, kapitalisme. Kapitalisme mendorong dan menciptakan sikap hidup komsumtif. Apa saja seolah menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi dari ujung rambut sampai ke ujung kuku.

Semua penting dan kita mesti mengeluarkan biaya untuknya. Dalam situasi demikian sebagian masyarakat rela melakukan apa saja untuk mengikuti arus ini.

Keempat, pengaruh media. Hand phone, internet, dan televisi  adalah 3 hasil teknologi yang berdaya guna sekaligus virus yang patut diwaspadai karena bisa mencederai pengguna.

Peneliti Rusdi Muchtar menyatakan bahwa tayangan pornografi di televisi memancing hasrat melakukan tindakan seksual (Kompas, 5/2/08). Menurutnya, 77% responden penelitian di Palembang, Sumatera Selatan  dan 63 % responden di Semarang menyatakan hal tersebut.

Internet yang semakin memasyarakat juga layak dicermati. Segala informasi termasuk gambar atau foto bugil serta situs-situs porno dengan gampang diunduh oleh siapa saja, di mana saja, dan kapan saja termasuk pelajar Indonesia.

Perkembangan terutama ekonomi dan teknologi menggoyahkan norma-norma masyarakat. Sesuatu yang dulu tidak pantas bisa saja kini dianggap pantas dan biasa, termasuk penyebarluasan hal-hal yang seharusnya bersifat sangat privat.

Yang memprihatinkan adalah hal tersebut bukan hanya terjadi di kota besar seperti Jakarta, Medan, atau Surabaya. Ia sudah merambah kota kecil bahkan sampai tingkat desa yang dipercaya sebagai basis pertahanan moral dan tradisi kita. 

 

Semakin Peduli

DI Kabupaten Semarang mulai tahun ajaran 2008/2009 seluruh siswa SMA, SMK, dan MA dilarang membawa telepon genggam/hp ke sekolah (SM, 10/7/08). Tindakan itu cukup bijaksana.

Namun, di luar jam sekolah apakah pelajar tidak mungkin menggunakan hp dan internet? Persoalan yang sebenarnya bagaimana mengerem bahkan mencegah kemarakan kebugilan dan kepornoan di kalangan pelajar?

Hal yang perlu dilakukan adalah penyadaran tentang tradisi dan etika. Setiap daerah atau negara memiliki etika yang berbeda. Etika dan kesopanan kita berbeda dengan bangsa Barat. Etika tidaklah bersifat universal.

Tradisi kita mengajarkan bahwa ada bagian dari tubuh yang sangat pribadi. Ia tabu jika dipamerkan, dipertontonkan, serta disebarluaskan kepada publik. Nenek moyang kita menabukan karena menganggapnya sebagai sesuatu yang agung dan sakral.

Membuka cakrawala kesadaran etika dan tradisi bukanlah pekerjaan sekali jadi tetapi membutuhkan kesabaran dan waktu panjang. Hal ini bisa melalui wur-wur sembur, penyuluhan, seminar, ceramah, diskusi, atau pendampingan dari berbagai kalangan  terkait baik dalam situasi resmi maupun tidak.  

Selain pihak sekolah, orang tua dan keluarga harus semakin peduli dalam menjaga dan melindungi pelajar kita. Pelajar di sekolah hanya sekitar 7 jam. Karenanya, orang tua dan keluarga harus lebih penuh perhatian serta efektif berkomunikasi dengan mereka.   

Apa yang akan terjadi jika bagian tubuh yang sakral dari pelajar kita  dipamerkan, dipertukarkan, dan dikonsumsikan kepada publik?  Pelajar merupakan generasi muda.

Pelajar adalah aset yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan nasional. Sudah sepantasnya kita — orang tua, keluarga, masyarakat, sekolah, pemerintah, dan siapa pun yang peduli   menjaga sekaligus melindungi generasi penerus bangsa.  

*******

Drs. Harjito, M.Hum, Ketua Program Studi Pend. Bahasa & Sastra Indonesia IKIP

PGRI  Semarang.

Alamat kantor: Jl. Lontar no. 1 Semarang 50242. Hp 081 2251 9899

Email    : harjito96@yahoo.co.id  ; harjitoian@gmail.com     

 

KUASA JAWA

Posted in Pendapat on Oktober 11, 2008 by lembarrenung

REFLEKSI ATAS KUASA JAWA

———————————————————————————————————-

Harjito

 

GAMBAR manusia Jawa, dalam disertasi Sumantri Hardjoprakosa, telah disampaikan  Satjipto Rahardjo (SM, 17/2). Tulisan ini hendak mengaitkannya dengan kekuasaan dalam tradisi Jawa serta mengambil contoh mantan presiden Soeharto. Fenomena kepemimpinan Soeharto identik dengan Jawa.

Anderson (dalam Budiarjo, 1991) menyebut ada empat ciri kekuasaan dalam tradisi Jawa. Salah satu ciri tersebut yaitu kekuasan bersifat kongkret. Kekuasaan bukanlah anggapan teoretis, tetapi suatu realitas yang betul-betul ada.

Kekuasaan merupakan daya yang tidak dapat diraba, penuh misteri, dan bersifat ketuhanan. Ia menghidupkan seluruh alam semesta. Tak ada garis batas yang tegas antara zat organis dan nonorganis dalam kekuasaan.

Untuk memperoleh kekuasaan orang Jawa melakukan bertapa, berpuasa, tidak tidur, bersamadi, tidak melakukan hubungan seksual, atau mempersembahkan sesaji. Kesemua itu untuk menghimpun dan menyerap kekuasaan.

Guna menambah sekaligus menyerap kekuasaan, penguasa mengumpulkan benda, orang, atau apapun yang mempunyai dan mengandung kekuasaan. Benda pusaka meliputii keris, tombak, alat musik suci, kereta, atau berbagai ragam manusia luar biasa seperti orang bulai, pelawak, orang kerdil, atau ahli nujum. Suara Merdeka (18/1) yang memuat tentang jejak spiritual Soeharto merupakan contoh tepat di sini.

Jika benda atau orang tersebut hilang dengan cara yang entah bagaimana maka ini dianggap sebagai berkurang atau memudarnya kekuasaaan. Hal ini juga pertanda datangnya kehancuran. Ketika Bu Tien wafat, masyarakat mengganggapnya sebagai pertanda kehancuran Soeharto.

 

Kemujuran atau Ketrampilan

Dalam buku Suharto Sebuah Biografi Politik Elson (2005) mencatat bahwa di tahun 1945 Soeharto sama sekali belum dikenal. Namun, 23 tahun kemudian telah menjadi presiden Indonesia dan menduduki jabatan selama 30 tahun.  Oleh majalah Asiaweek, tahun 1996, Soeharto disebut sebagai orang terkuat Asia.

Menurut Elson, faktor keberhasilan Soeharto adalah gabungan antara nasib mujur dan ketrampilan. Kemujuran Soeharto ketika berada di dan sekitar Yogyakarta, pusat perjuangan revolusioner. Ia berada dekat serta akrab dengan para pemimpin politik dan militer seperti Soekarno, Syahrir, Hatta, Sudirman, juga Nasution.

Tahun 1950an, pada masa jabatannya sebagai panglima Diponegoro di Jawa Tengah bersamaan dengan pernyataan keadaan negara dalam perang. Hal itu yang memungkinkan ia mulai menjalankan seni kekuasaan politik serta militer.

Intervensi AS dalam krisis Irian Barat tejadi persis ketika ia hendak mengarahkan tentara untuk menyerang Belanda. Berikutnya, Soeharto kebetulan berada di Jakarta sebagai perwira senior yang menguasai langsung pasukan pada pagi 1 Oktober 1965.

Kenaikan ke puncak kekuasaan terjadi persis pada masa Perang Dingin, tatkala kemunculannya disambut dan didukung AS. Masa paling goyah dalam kekuasaan Soeharto, di awal era 1970-an, justru berbarengan dengan melambungnya harga minyak.

Selain memiliki kalkulasi yang detil, Soeharto trampil menarik orang-orang yang berbakat besar. Juga, kemampuannya membangun dan memelihara mesin patronase dan memastikan semua pelaku secara praktis terkompromikan dan berhutang budi sehingga tidak memiliki ruang bermanuver politik.

Jangan heran, karenanya, mantan Mensekneg Moerdiono mengaku tidak mungkin melupakan jasa Soeharto. Hal yang sama kiranya terjadi pada para pejabat yang pernah menikmati keemasan masa Soeharto.

Sebenarnya, agak aneh kemujuran demi kemujuran banyak dialami Soeharto. Analisis Elson di atas, jika dicermati, merupakan pengaruh cara pandang Jawa. Entah hal itu disadari atau tidak oleh Elson. Kita, masyarakat Jawa,  biasa menyebutnya sebagai beja, keberuntungan. Namun, keberuntungan tidaklah datang beruntun.

 

Refleksi

BERKAIT dengan kasus Soeharto terdapat 2 wacana yang berkembang. Pertama, memaafkan. Kedua, melanjutkan dan menuntaskan proses hukum atas Soeharto. Pilihan pertama, tampaknya, didasari oleh filosofi  mikul dhuwur mendhem jero.

Filosofi itu bermakna anak atau generasi muda memiliki kewajiban menjunjung tinggi nama baik dan menjaga kehormatan orang tua atau generasi sebelumnya.  Sebagai masyarakat Jawa bijaksana manakala menyebarluaskan kebaikan para pemimpinnya dan melupakan sekaligus memaafkan segala kemungkinan kesalahan serta keburukkan.

Meminjam istilah Sindhunata (1999), dalam “De-Jawanisasi Politik Indonesia”, pola-pola mitos kita adalah  “mengenang untuk mengagungkan”. Dengan motif tersebut manusia yang fana ditinggikan sehingga melampaui kemanusiaannya.

Motif tersebut mulai dari periode Jawa Kuno sampai penulisan model babad di zaman Mataram. Pemberian watak serta kualitas mitologis pada tokoh sejarah seperti Jayabaya, Wisnuwardhana, Senapati, dan Sultan Agung bertujuan memberi keagungan dan kebesaran pada tokoh beserta tindakannya.

Kritik Anderson yang menarik atas manusia Jawa yaitu sebagian besar kepustakaan tradisional Jawa lebih membicarakan bagaimana memusatkan dan mempertahankan kekuasaan. Yang jarang dibicarakan adalah bagaimana menggunakannya dengan wajar.

Asvi Warman Adam sependapat dengan Elson bahwa warisan Soeharto yang sebenarnya adalah negara, untuk mencapai tujuannya, melakukan kekerasan terhadap warga negara secara periodik dan sistematis.

Kekerasan periodik dan sistematik tak mungkin terjadi jika kekuasaan digunakan secara wajar. Negeri ini memiliki sejarah panjang tentang tradisi kekerasan. Saya kira, inilah refleksi penting atas manusia Jawa.

Dalam konteks Indonesia kini  — terutama menjelang pilihan kepala daerah, pilihan presiden, maupun pilihan lain —  bagaimana kita dapat menggunakan kekuasaan dengan wajar. Selain itu,  masyarakat perlu mengawasi agar kekuasaan selalu dipergunakan secara wajar.

*****

 

Drs. Harjito, M.Hum, Ketua Program Studi Pend. Bhs. & Sastra Indonesia IKIP PGRI

Semarang.

Alamat kantor: Jl. Lontar no. 1 Semarang 50242. Hp 081 2251 9899

Email    : harjitoian@yahoo.co.id  ; harjitoian@gmail.com 

Ibu di zaman globalisasi

Posted in Pendapat on Oktober 11, 2008 by lembarrenung

GLOBALISASI IBU

———————————————————————————————————–

Harjito

 

MARI membicarakan peran ibu di era globalisasi.

Seorang remaja, kelas 2 SLTA berumur 16 tahun, memamerkan kepada teman foto bugil wanita yang terdapat di dalam hand phone-nya. Seorang siswa kelas 6 SD bermain internet tanpa pengawasan orang tua. Daftar kejadian seperti ini bisa dibuat lebih panjang lagi. Hal tersebut dimungkinkan terjadi karena informasi yang meluber di era globalisasi.

Globalisasi merupakan imperialisme dunia Barat di abad modern karena secara struktur mereka lebih kuat dibandingkan negara-negara dunia ketiga. Daya gerak imperialisme, menurut  Lenin, adalah eksploitasi ekonomi. Karenanya, imperialisme merupakan perpanjangan tangan dari ideologi kapitalisme. Kapitalisme berupaya mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan diri sendiri.

 

Kapitalisme Informasi

KAPITALISME, merujuk pendapat Sargent (1987), bercirikan tiga hal. Pertama, kepemilikan kekayaan oleh individu. Kedua, tidak ada pembatasan dalam pengumpulan kekayaan. Ketiga, pemerintah tidak campur tangan dalam perekonomian dan karenanya  berlaku sistem pasar bebas.

Kapitalisme tradisional (kapitalisme laissez-faire) berpendapat bahwa seluruh struktur kekebasan dibangun di atas kekayaan individu. Hal ini akan hancur jika harta kekayaan individu dibatasi, atau bila sistem pasar bebas dicampuri pemerintah.

Kapitalisme modern, setelah tahun 1930-an,  ditandai empat hal. Pertama, sebagian besar kekayaan dimiliki individu. Kedua, sedikit sekali batasan terhadap pengumpulan harta kekayaan. Ketiga, pengaturan perekonomian oleh pemerintah. Keempat, adanya bantuan dan pensiun yang dibiayai pemerintah.

Dalam kapitalisme modern, peran pemerintah dimungkinkan secara luas di bidang ekonomi sepanjang dipandang perlu untuk menjamin agar persaingan dilaksanakan dengan sehat dan demi memungkinkan yang kalah tidak kelaparan.

Kapitalisme hanya mungkin hidup dalam sistem yang menghargai kebebasan dan persamaan. Karenanya, kapitalisme hanya tumbuh dalam iklim liberalisme, kebebasan individu,  dan demokrasi. Jangan heran manakala Amerika berjualan demokrasi dan liberalisme di seluruh pelosok dunia untuk memasarkan ideologi kapitalisme.

Dalam suasana seperti itulah informasi menerobos masuk dalam celah yang dahulu tak terbayangkan. Informasi menelusup batas-batas fisik teritorial negara. Melalui 3 hasil teknologi yang menakjubkan yaitu hand phone, internet, dan televisi (baca: hit) menyebarkan informasi yang merasuk wilayah sangat pribadi yaitu keluarga.

Informasi tidak memaksa  dengan cara kekerasan, tetapi dengan meng-hegemoni. Seolah-olah masyarakat dan individulah yang sangat membutuhkan seribu satu pesan informasi. Banyak kalangan mensyukurinya sebagai wujud kebebasan dan hak mendapatkan informasi seluas-luasnya.

 

Peran Ibu

DALAM tingkat kemakmuran yang semakin membaik batas kepemilikan dan pemakaian hit merambah hampir di segala usia. Dari mulai anak-anak hingga usia yang tak terbatas. Beberapa saat lalu ditayangkan di televisi tentang iklan pemakaian internet di sekolah-sekolah di Indonesia.

Yang patut diwaspadai adalah manakala yang merasuk ke wilayah keluarga dan individu berwujud informasi negatif, sesuatu yang tidak layak dikonsumsi oleh batas usia semestinya.  Foto-foto bugil disimpan dan dipertukarkan di hp anak-anak kita yang masih lugu. Tayangan kekerasan fisik dan kata-kata disuguhkan hampir setiap hari di televisi. Film, gambar, atau cerita sensual dan seronok dengan mudahnya diakses melalui internet.  

            Para produsen informasi tidak terlalu peduli pada dampak yang ditimbulkankan karena mereka hanya memperhitungkan keuntungan ekonomi bagi diri sendiri. Sangat mungkin segala informasi yang bersifat negatif sengaja diproduksi dan diperjualbelikan oleh negara atau individu untuk menggoyang sekaligus meruntuhkan suatu negara atau individu lain. Penguasa informasi adalah penguasa dunia.

Keluarga, dengan anggota di dalamnya, memiliki setidaknya dua peran dalam berkehidupan bermasyarakat yaitu wilayah domestik dan publik. Wilayah domestik mencakup kegiatan yang ada dalam rumah, seperti mengasuh serta membesarkan anak, menyiapkan makan, mencuci, atau lainnya. Wilayah publik adalah wilayah ke luar dari dunia rumah seperti mencari nafkah atau peran-peran dalam bermasyarakat. Wilayah domestik biasanya dibebankan kepada perempuan dan publik dilaksanakan  lelaki.

Pada masa pemerintahan Soeharto pernah dikumandangkan peran ganda wanita. Wanita selain sebagai ibu rumah tangga juga memiliki peran membantu perekonomian keluarga demi meningkatkan kesejahteraan. Perempuan Indonesia yang pada umumnya mukim di wilayah domestik  ke luar dari zona tadi dan masuk di wilayah publik. Para lelaki menjadi disokong oleh peran ganda wanita ini.

            Perdebatan yang acap muncul di media lebih berfokus pada setuju tidaknya atau penting tidaknya atas peran ganda wanita. Sebagian besar perempuan Indonesia meninggalkan atau “menelantarkan” wilayah domestik karena dorongan meningkatkan taraf hidup. Sebagian lainnya, karena tingkat pendidikan yang tinggi, terdorong oleh kesadaran mendalam tentang perlunya memperluas kehadiran perempuan di wilayah publik, termasuk ekonomi, sebagai sebuah eksistensi.

            Sikap ini makin lama makin meluas. Bahkan, penguasaan wilayah publik dan ekonomi oleh perempuan dianggap jauh lebih penting dan mulia. Karenanya, perempuan yang mengasuh anak, rumah tangga, dapur, cucian, dianggap lebih rendah atau tidak modern dibanding mereka yang bekerja di kantor atau instansi. Semakin banyaklah para wanita hijrah ke wilayah publik dan “melalaikan” yang domestik.

 

Membagi dan Menggeser Peran

LELAKI, di lain pihak, tetap anggun berada di koloni yang sejak dulu dirajai, wilayah publik. Lalu, siapakah yang menjaga pertahanan wilayah domestik, nilai-nilai moral dalam keluarga ketika hp, televisi, internet dengan informasi yang bersifat negatif  menguasai?

Jika perempuan merambah wilayah publik bukanlah perihal lebih penting atau lebih bergengsi. Hal itu selayaknya lebih didasari oleh faktor pilihan. Artinya, mereka yang dengan sadar atau tidak tetap menjaga wilayah domestik rumah tangga adalah sama mulianya dengan mereka yang bekerja mencari nafkah.

Membesarkan dan menjaga nilai-nilai keluarga dan moral anak adalah sama berharganya dengan mencari penghasilan. Tidak ada yang lebih tinggi maupun lebih rendah.  Jika perempuan meninggalkan atau tidak peran ibu, sudah selayaknya lelaki memiliki kewajiban juga untuk masuk dan menjaga wilayah domestik rumah tangga.

Inilah yang disebut berbagi peran. Publik maupun domestik merupakan wilayah yang sama pentingnya. Jika para bapak ikut membantu, bahkan menggantikan peran ibu, adalah sama mulianya dengan mereka yang bekerja mencari nafkah. Menjaga pertahanan wilayah domestik adalah bekerja juga. Bukanlah aib manakala lelaki bergeser peran untuk membantu dan menggantikan dalam mengasuh, momong, anak-anak.

            Mungkin dirasakan janggal dan menjengkelkan dalam budaya patriaki yang menjunjung dan meninggikan lelaki. Menjaga pertahanan keluarga, membendung hal-hal negatif, menumbuhkan segala yang positif adalah tugas mulia bagi bapak dan ibu.

 

*****

           

Drs. Harjito, M.Hum, Ketua Program Studi Pend. Bhs. & Sastra Indonesia IKIP PGRI

Semarang.

Alamat: Wonodri Krajan III/ 964a Semarang 50242, Hp 081 2251 9899; (024) 844 5597

Email    : harjitoian@yahoo.co.id  ; harjitoian@gmail.com 

 

Mitos Manusia Modern

Posted in Pendapat on Oktober 11, 2008 by lembarrenung

MITOS MANUSIA MODERN

———————————————————————————————————

Harjito

 

SEJARAH peradaban manusia adalah pergulatan interaksi manusia dengan alam. Memprediksi dan mengatasi bencana alam seperti banjir atau tanah longsor yang terjadi di Indonesia atau  Jawa Tengah, adalah bagian dari  interaksi itu. Manusia modern adalah manusia yang dapat mencegah bencana agar tidak berulang kembali karena bencana selalu membawa kerugian bagi manusia.

Penghitungan menyeluruh kerugian akibat banjir yang terjadi baru-baru ini belum dilakukan. Sebagai gambaran awal, harian ini melaporkan ratusan hektar tambak di Kecamatan Kedung, Jepara, terendam banjir. Ikan tambak siap panen jenis bandeng dan udang hanyut dan petambak rugi ratusan juta (SM, 16/2/08).

Sebuah harian ibukota juga mencatat bahwa untuk Pati, Kudus, serta di Jepara  banjir mengakibatkan sekitar 28.000 rumah warga dan 20.000 hektar sawah tergenang air. Termasuk juga sawah seluas 50 hektar di desa Mangunsari, Kecamatan Tegowani, Kabupaten Grobogan (Kompas 19 Februari 2008).

Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Kabupaten Karawang Didy Sarbini HS menyebut bahwa Kabupaten Karawang, Jawa Barat, mengalami kerugian sekitar 9 miliar  dan 8.772 hektar sawah tergenang (Kompas 20 Februari 2008)..

Direktur Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum A Hermanto Dardak menyatakan bahwa jalur pantura sepanjang 100 kilometer rusak dengan luas satu juta meter persegi. Idealnya,  dibutuhkan dana 200 miliar untuk perbaikan (Kompas 20 Februari 2008)..

 

Manusia Modern

INTERAKSI manusia dengan alam dapat berbentuk pemerian atau pendeskripsian suatu kondisi. Lalu, penyusunan teori dan hukum-hukum tertentu. Karena keberulangan yang berwujud pada hukum-hukum tertentu tadi, sebuah peristiwa dapat diprediksi sekaligus  dikendalikan. Dalam istilah jamak, bagaimana manusia  menguasai alam untuk kepentingannya.

            Interaksi tersebut merupakan bagian dari era modern. Hardiman (2007) membedakan antara manusia pramodern dengan modern. Manusia modern muncul di Eropa dengan penemuan subjektivitas dan rasionalisme yang berlanjut pada empirisme. Tokoh yang terkenal adalah Descartes dengan kesadaran barunya cugito ergo sum.

Manusia merupakan subjek yang menghadapi alam lahiriah. Antara subjek manusia dengan dunia objek alam semesta terpisah. Keduanya bukan kesatuan lagi sebagaimana yang terjadi pada zaman pramodern.

Pengetahuan manusia tentang kenyataan adalah hasil pemikiran dan tidak diturunkan dari wahyu atau tradisi. Cugito merupakan keyakinan pada rasionalitas manusia. Manusia adalah pusat dunia. Manusia modern memisahkan antara yang profan dengan yang sakral. Alhasil, alam gaib kehilangan kekuasaan atas manusia. 

Sementara itu, manusia pramodern setidaknya berciri kosmosentris dan menyatukan antara sakral dengan  profan.  Kosmosentris beranggapan bahwa  manusia takhluk kepada hukum-hukum alam. Seluruh lingkungan alam dan sosial adalah totalitas yang sakral.

            Manusia pramodern sepenuhnya dikendalikan dan dikuasai oleh semesta. Sebaliknya, pada manusia modern semestinya dapat melampaui dan mengatasi bencana alam, misalnya. Menurut Tri Handoko Seto, peneliti dan praktisi TMC di BPPT, untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya banjir akibat curah hujan tinggi dapat dilakukan dengan sedikit modifikasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) (Kompas 20 Februari 2008)..

Secara mudah, teknologi yang dimaksud bertujuan mempercepat terjadinya hujan dan menjatuhkannya di lautan. Dari segi teknis, BPPT melalui Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan, tidak terlalu sulit untuk melaksanakannya. Namun, apa yang disampaikan Tri Handoko Seto barulah sebatas ide dan belum dilakukan.

            Sementara itu, Asisten Deputi Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi Pariatmono menjelaskan bahwa  awal Maret ini akan diluncurkan Pusat Informasi Riset Bencana Alam (PIRBA). Pusat informasi ini berkegiatan menyampaikan informasi riset kebencanaan (Kompas 20 Februari 2008)..

 

 

 

Manusia Pramodern?

PADA kenyataannya, paling tidak sampai saat ini, bukan manusia yang menguasai alam tetapi alam-lah yang mengatasi manusia. Bencana yang sama selalu berulang kembali di wilayah Indonesia. Ia menjadi sesuatu yang rutin. Keberulangan tadi memang dapat diprediksi tetapi tidak mampu ditanggulangi.

Semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo hingga sekarang belum dapat disumbat. Banjir yang melanda Jakarta selalu berulang, bahkan dalam jangka waktu yang belum  menginjak usia setahun. Semarang, ketika saya kecil telah dikenal dengan sebutan “Semarang kaline banjir”. Di tahun 2008 ini pun masih banjir.

Khusus Semarang, misalnya, air menggenangi Jl. MT Haryono, Jl Agus Salim, Kawasan Pasar Johar, Jl Imam Bonjol, Kawasan Kota Lama, Jl  Ronggowarsita, Jl Raya Kaligawe, Jl Citarum Raya, dan Jl. Muktiharjo Raya.

SM (17/2/08) bahkan memotret “Semarang Banjir Lagi” dengan foto Stasiun Semarang Tawang yang dipenuhi air. Juga, antrian kendaraan di Jl Arteri Yos Sudarso yang terjebak macet.

Keberulangan bencana dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah, dikendalikan, atau dicegah. Ia adalah sebuah takdir yang harus diterima. Entah sampai kapan

Jika demikian, secara fisik kita telah memasuki kehidupan modern dengan hasil teknologi yang dipergunakan atau ditenteng setiap hari seperti hp, televisi, laptop, internet, atau lainnya. 

Namun, jika mau jujur kita masih berada di kesadaran kosmosentris, sebagai manusia pramodern. Kita masih sangat dikendalikan oleh alam.  Kita memang belum dapat sepenuhnya mengatasi alam semesta. Manusia modern hanyalah sebuah mitos.

*******

 

Drs. Harjito, M.Hum, Ketua Program Studi Pend. Bhs. & Sastra Indonesia IKIP

PGRI  Semarang.

Alamat kantor: Jl. Lontar no. 1 Semarang 50242. Hp 081 2251 9899

Email    : harjitoian@yahoo.co.id  ; harjitoian@gmail.com      

 

 

Budaya Teknologi

Posted in Pendapat on Oktober 11, 2008 by lembarrenung

BANJIR KATA

 

            “Seperti biasa, Mas?” tanya Iya, wanita separuh umur, sekitar 40 tahun, lulusan SMA,

            “Ya. Seperti biasanya,” jawab saya.

            Setidaknya sebulan atau satu setengah bulan sekali saya datang ke salon. Sebuah salon yang berdiri bukan di jalan utama. Jalan kampung saja. Tidak terlalu besar, tapi cukup ramai. Barangkali karena tarifnya yang ditujukan kepada khayalak umum, bukan kaum premium.

            Sebagaimana lazimnya, saya menyukai gaya rambut cepak, pendek merata sekitar 1 cm. Menurut teman-teman, gaya potongan rambut ini kurang cocok dengan wajah inosen saya. Saya tetap saja percaya diri. Cukup kena air saat mandi dan saya tidak perlu sisiran, Langsung bisa berangkat kerja atau melakukan aktifitas lain. Rapi karena pendek itu. Saya menyebutnya gaya rambut ala Michel Foucault, seorang filsuf Perancis yang rambutnya plontos tetapi pemikirannya cemerlang tentang hubungan kuasa dan pengetahuan.   

            Seraya dirapikan, saya melirik televisi. Stasiun televisi swasta menyiarkan berita banjir yang melanda Jakarta. Senin, 5 Pebruari 2006, sudah 4 hari dan 60 persen Jakarta, ibukota negara Indonesia, terendam air. Korban nyawa manusia mulai berjatuhan. Entah karena terseret air, kena setrum, atau tertimpa pohon. Tanah di ketinggian tertentu menjadi sangat berharga sekaligus menjadi tempat pengungsian. Seorang artis cilik mengungsi di hotel berbintang-bintang. Kamera menyorot dan tiba-tiba ia berubah menjadi pengamat yang sangat cerdas bahwa pembangunan semestinya begini dan begitu. Menu lumpur Lapindo Sidoarjo, tenggelamnya KM Senopati , dan hilangnya pesawat Adam Air seketika menjadi basi.  

            Dimana kaitannya dengan dunia pendidikan?

            Tentu saja ada. Ini Cuma sebagian. Ratusan buku koleksi perpustakaan SMA Negeri 60 Jakarta Selatan rusak karena berenang di air. Termasuk rusak juga peralatan audio visual bernilai ratusan juta rupiah milik sekolah tersebut. Perpustakaan LIPI, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang disebut Pusat Dokumentasi Ilmiah Indonesia (PDII) terendam air.  PDII LIPI menanggung rugi akibat rusaknya buku-buku yang telah dicetak dan dijilid, termasuk juga mesin cetak yang terletak di lantai dasar karena genangan air tahun ini mencapai 2 meter sementara banjit tahun 2002 hanya 80 cm (Kompas, 6 Februari 2007)

            Sambil menetak rambut saya, Iya, bertanya,”Kenapa kita ndak bisa mengatasi?”

            “Hmm,” saya hanya bergumam.

            Wong itu setahun sekali pasti datang.  Harusnya bisa ya Pak? Paling mboten nggih mengurangi. Tidak malah bertambah-tambah,” kata-katanya campur aduk antara Jawa dengan Indonesia sebagaimana juga campur aduknya air bah antara sampah, kotoran, daya serap tanah yang menghilang, pohonan yang pergi entah ke mana berganti menjadi perumahan atau mall.

            Kamera menyorot lagi tentang pendapat seorang pejabat bahwa upaya-upaya pencegahan telah dilakukan dan banjir kali ini tidak terlalu parah dibandingkan tahun-tahun. Pendapat tadi bertentangan dengan data masyarakat yang menyatakan bahwa tahun ini justru lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Seorang pejabat menyatakan bahwa siapa pun yang menjadi penguasa di Jakarta, Jakarta tidak bisa lepas dari banjir. Itu fenomena alam.

            Ini artinya, menurut penafsiran saya: kalau Anda seorang pejabat, Anda bisa mengelak kapan saja dan di mana saja. Timpakanlah kesalahan itu kepada fenomena alam. Artinya, kita bisa mengelak dari tanggung jawab.

            Konon disebut manusia modern karena berpisahnya antara subjek dan objek. Manusia mistik adalah mereka yang menyatukan antara subjek dan objek. Dalam bahasa sederhana, ketika kita sebagai subjek masih dikendalikan dan dikuasai oleh objek alam, tatkala kita masih menyatu dengan mereka, itulah pramodern — sebutlah masih mistis. Manusia modern manakala kita mampu mengendalikan dan mengatasi alam. Yang menjadi akar persoalan adalah kita bukan mengatasi alam tetapi mengeksploatasi alam. Kita menguras habis alam untuk kepentingan sesaat tanpa memikirkan jangka panjang.

            Lahan-lahan yang seharusnya menjadi tempat penyerapan air diubah menjadi perumahan atau mal. Lantas, air yang turun ke bumi dalam wujud hujan dan pastilah datang sesudah musim kemarau, karena kita cuma punya 2 musim yaitu kemarau dan penghujan, hendak lari ke mana? Artinya lagi, kita yang merasa sudah bersandingkan hand phone, menenteng lap top, terbang ke sana kemari memakai pesawat terbang baru secara fisik modern tetapi cara berpikir kita masih mistis. Kita selayaknya mengacungi jempol kepada Mbah Marijan, penjaga Gunung Merapi yang secara lugas dan lugu mengakui kelebihan alam dibanding manusia.

            “Pak, apa kita ini memang tidak bisa belajar dari pengalaman?” Iya mencari kepastian

            Saya tercenung. Secara teoretis dan dalam bahasa sedikit akademik, guna dari ilmu adalah meramalkan atau memprediksi sesuatu yang akan terjadi berdasarkan data-data yang tersimpul dan terkumpul dari masa lalu. Karena adanya kontinuitas dan keajegan pada gejala alam tadi maka sepatutnya kita bisa meramalkan kemungkinnan apa yang bakal terjadi. Karena bisa diramalkan, sudah selayaknya juga kita berupaya maksimal untuk mengantisipasi dan mencegah hal-hal negatif yang disebabkannya. Dalam hal topik kita ya banjir tadi. Ah, maaf, malah seperti memberi perkuliahan saja.   

***

“Seperti biasa, Mas?” mungkin tanya Iya di bulan atau tahun depan,  masih wanita separuh umur, masih sekitar 40 tahun, masih lulusan SMA,

“Tidak. Tidak seperti biasanya kalau itu bermakna  kekeringan, banjir, korupsi, bencana atau segala hal yang berarti negatif,” jawab saya mantap.

            Pembaca Suara Kampus,

            Dalam konteks ini, kini, dan  di sini: semoga kota tercinta Semarang tidak banjir air, tetapi banjir rizki. Meskipun saya suka gaya rambut ala Foucault, tetapi saya sangat tidak menyukai apabila kota Semarang gundul dari pepohonan nan rindang dan teduh. Jika Anda banjir emosi dan butuh konsultasi, silakan ke Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Semarang. Ada Ibu Ari Handayani atau Bpk Mujiono yang siap menerima keluhan Anda. Bulan ini kami menampilkannya khusus untuk Anda.

            Jika Anda banjir kata-kata atau pandai berkata-kata, tuliskanlah ide, pemikiran, segala kegiatan itu dan sampaikanlah ke kami. Sebuah tulisan jauh lebih abadi dibandingkan air bah kata-kata lisan.

            Salam Indonesia.

 

 

Cermin Jiwa

Posted in Cerita Pendek on Juli 24, 2008 by lembarrenung

Cermin Jiwa Cerita Pendek : S. Prasetyo Utomo

Wajah Ulfa jernih, tenang, dan penuh percaya diri. Sepasang lengkung alisnya serupa mantra. Menenteramkan siapa pun yang menatapnya. Ia keluar dari rumah kayu. Menampakkan sosok samar di kebun anggrek. Hangat matahari menyingkap kabut di rambutnya. Dari celah-celah bunga anggrek, ia menatapi Ismail, lelaki muda di seberang jalan. Lelaki itu menyusuri kesunyian ke kantor. Sepasang kupu-kupu mengitari kepalanya. Cahaya matanya serupa cermin jiwa: memantulkan hangat semesta yang membuka cakrawala Ulfa.
Di kebun anggrek itu Ulfa memantulkan kesegaran bunga-bunga mekar. Gadis itu sengaja berada di kebun anggrek. Ia bisa mencium aroma asap jerami dibakar. Menghirup bau tanah basah sawah sehabis dibajak. Mencuri pandang pada Ismail, lelaki kurus, dengan hidung mencuat, bibir tipis dan jarang berbincang. Ketampanan lelaki itu terselubung sepi. Tinggal di rumah kayu yang luas dan terpelihara, lelaki kurus itu terlambat menikah. Ulfa selalu menatap matanya yang memantulkan keteduhan tanah yang ditumbuhi rumput, perdu, dan bunga-bunga liar.
Tatapan Ulfa pada Ismail sering kali dilakukannya dengan diam-diam, menakik rasa gundah yang nyeri di hati. Ismail seperti hidup sendirian, setelah ibunya meninggalkannya, pergi begitu saja, pada umurnya yang sepuluh tahun. Ulfa selalu memandangi lelaki itu sejak kecil. Lelaki itu terus saja bekerja, mengaji ke surau, tanpa senyum, tanpa berbincang-bincang.
Ayah Ismail sungguh aneh. Lelaki tua itu selalu keluyuran malam. Rambutnya memutih seluruhnya. Separuh wajah bagian kanan, menghitam arang memendam bara. Ia selalu bepergian tiap malam, mencari lawan berjudi, dan kata orang, sesekali mencuri sarang burung walet di tebing terjal pantai. Ia merambati tebing-tebing karang selengket cicak. Lewat larut malam ia pulang. Mabuk. Meracau. Teriak-teriak. Lantang. Menembus kabut dini hari.
Lambat laun Ulfa mulai paham, dan ia takjub, melihat Ismail tumbuh dengan dirinya sendiri, di rumah kayu yang luas, peninggalan kakeknya.
Pada gerimis yang rapuh, menjelang senja, burung-burung sriti menghambur di atas pohon randu alas, di belakang surau. Bercericit gaduh. Ayah Ismail mengetuk pintu rumah Ulfa, teratur dan sopan. Suaranya berat dan patah-patah. Ulfa berlarian membukakan pintu. Meminta lelaki berambut putih itu duduk di ruang tamu. Gugup.
“Tolong panggilkan ayah dan ibumu,” pinta ayah Ismail. Sungguh gemetar Ulfa memandangi ayah Ismail. Tatapan lelaki tua itu liar, beringas, dan menyerang.
Abah Lutfi, ayah Ulfa, tersenyum tenang.
“Aku ingin bicara juga dengan istrimu,” kata ayah Ismail, dengan permohonan yang lembut. Tapi Umi, ibu Ulfa, menahan rasa takut, getar dalam dada. Guncangan tertahan itu diredakannya.
“Begini, Abah Lutfi. Saya datang sore ini untuk meminang Ulfa bagi Ismail. Saya sudah tua, tak bisa memberikan apa pun bagi anak saya itu, kecuali mencarikannya jodoh.”
Terdiam. Lama. Belahan wajah hitam ayah Ismail seperti bara terhembus angin. Lelaki tua itu mengambil napas, dan meredakan rasa murka. Dipandanginya Abah Lutfi yang tersenyum.
“Aku serahkan pinangan ini pada Ulfa,” sahut Abah Lutfi, teduh dan lembut.
Buru-buru Umi menyambut. “Aku minta waktu agar anak gadisku cukup matang.”
Lelaki berambut memutih dengan belahan wajah hitam itu tampak teduh dan tenteram. Memandangi Abah Lutfi dan Umi, bergantian, mencari kepastian. Tiap saat ia menatap wajah Abah Lutfi yang tersenyum, bara dalam belahan wajahnya padam. Tiap saat ia menatap wajah Umi yang menegang, bara dalam belahan wajahnya menyala. Terhenti ia pada segaris senyum Abah Lutfi, yang tulus, dan tak dibuat-buat. Lelaki tua itu menunduk. Terus tersenyum.
Ayah Ismail berdiam diri. Memandangi lagi Abah Lutfi. Mencari keyakinan. Ayah Ismail mengangguk-angguk. Bangkit. Mohon diri. Mengulurkan tangan. Menyalami Abah Lutfi. Berpamitan. Bukan sekadar bersalaman. Ayah Ismail mencium tangan Abah Lutfi. Tertetes sepercik air mata di punggung tangan Abah Lutfi.
Burung-burung sriti tak lagi gaduh bercericit. Hinggap di dahan pohon randu alas. Seketika sepi, seketika pekat merambat.
Di surau, di belakang rumah kayu Abah Lutfi, samar terdengar suara anak-anak mengaji. Abah Lutfi berdiam diri di meja makan. Menelantarkan pepes ikan mas kesukaannya. Tak berselera. Dipandanginya Ulfa dan Umi bergantian, kehilangan suara.
Telah mengering sepercik air mata di punggung tangan Abah Lutfi. Tapi tangan itu tak segera dicucinya. Tak digerakkannya untuk menuang nasi dalam piring. Tak melahap pepes ikan mas. Terdiam. Menampakkan rautan renungan dalam wajahnya, terutama di sekitar mata.
“Apa yang Abah risaukan?” tegur Ulfa, pelan, teduh.
“Bagaimana aku menampik lamaran ayah Ismail?”
“Kenapa mesti ditampik?”
Terbatuk, Abah Lutfi menukas, “Kau menerimanya?”
“Kalau Abah amati sisi wajah ayah Ismail yang bersih, tentu tak perlu bimbang macam ini.”
“Kau menerima Ismail?”
“Saya hanya meminta Abah melihat sisi terang pada wajah ayah Ismail.”
“Ho-ho, kau selalu begitu!”
Seketika, tersenyum dan cairlah rautan renungan dalam wajah Abah Lutfi. Lelaki itu mengambil nasi, makan dengan lahap. Pepes ikan mas itu tinggal duri-duri. Pada bagian kepala ikan pun dicecapnya. Terserak remah-remah tulang belulang dan duri ikan di piring. Tak ada lagi percakapan. Terdengar sendawa Abah Lutfi. Berkali-kali.
Sesuatu yang tak lazim, Ismail memandang ayahnya bersarung, berpeci, dan buru-buru melangkah ke surau Abah Lutfi menjelang magrib. Belum pernah Ismail melihat wajah ayahnya sebening itu. Belahan wajah menghitam itu tak lagi membara. Belahan wajah itu seteduh lumpur sawah musim tanam padi.
Malam hari ayah Ismail memasuki rumah, pelan-pelan, diam-diam, tanpa suara. Duduk di ruang tengah. Terbatuk. Menghirup kopi. Merokok. Termenung. Sesekali mencuri-curi pandang ke arah anak lelakinya.
“Telah kulamar Ulfa untukmu,” kata ayah Ismail, berat, dan menunduk. Tak tampak kerisauan pada wajah Ismail. Tetap tenang. Melakukan segala hal sendirian. Diam-diam.
Melihat ayah Ismail bergegas ke surau, Umi cemberut. Sesekali ia mengerling ke arah lelaki tua itu. Tiap kali dilihatnya belahan hitam wajah lelaki itu, Umi?tanpa disadarinya?bergidik. Buru-buru ia meninggalkan surau. Tak dilihatnya dalam kelam puncak pohon randu alas, cericit burung-burung sriti beterbangan. Sesaat. Kembali sunyi.
Tiap kali datang orang baru ke surau, Umi selalu menyambut dengan mata bercahaya. Kali ini lain. Dadanya berdegup. Meletup-letup. Tak bisa dibayangkannya, Ulfa, anak gadisnya, hidup serumah dengan lelaki beringas, yang selalu membawa ceracau mabuk dan murka ke rumah.
“Ayah Ismail itu, uh, mengapa selalu datang ke surau?” gerutu Umi.
“Mestinya Umi merasa senang. Dia datang ke surau kita. Bukannya mabuk,” tukas Ulfa, mencengangkan.
“Dia berbuat begitu lantaran ingin meminangmu.”
“Ini lebih baik, daripada dia keluyuran malam, dan mencuri sarang burung walet.”
Subuh keempat puluh ayah Ismail berkunjung ke surau Abah Lutfi. Tak seorang pun menatap langit di atas pohon randu alas, di belakang surau. Burung-burung sriti berkitar-kitar, bercericit, hinggap-terbang, hinggap dan terbang lagi di pohon randu alas itu. Langit masih gelap, dan burung-burung sriti itu luput dari perhatian orang-orang yang bergegas ke surau.
Tak sekali pun ayah Ismail bertanya kepada Abah Lutfi mengenai pernikahan anak lelakinya dengan Ulfa. Dalam diam bersimpuh, dia biasa terisak-isak, dengan mata terpejam memanjatkan doa. Tatkala orang-orang sudah meninggalkan surau, dia masih bersimpuh sendirian. Lama, hingga matahari berkilau menghangati hamparan tikar surau. Lelaki tua itu beringsut, pelan, bangkit.
Kali ini, dalam dingin kabut dini hari, ayah Ismail telah menyempurnakan ketenteraman wajahnya dari pergolakan. Belahan hitam wajahnya tak menyeramkan, serupa lumpur sawah yang digenangi air: rata, datar, menyimpan anugerah alam. Orang-orang di surau mulai menerima kehadiran lelaki tua itu. Tak lagi menatap dengan selidik dan tatapan curiga.
Di tengah-tengah suara orang berdoa, sehabis shalat subuh, ayah Ismail tak dapat menahan tubuh. Tersungkur. Tiada lagi napas mengembus dari hidungnya. Ia rebah dengan tangan masih menggenggam tasbih. Tubuhnya terjerembap. Tidak menggelepar. Tidak berkelejatan. Tubuh itu terburu, kehilangan napas pelan-pelan, di antara orang- orang yang bersimpuh doa. Mula-mula orang-orang tak menduga lelaki tua itu direnggut ajal. Tapi kemudian orang-orang terperanjat, gugup dan memekik tertahan.
Kini orang-orang mulai melihat cericit burung-burung sriti yang tak terhitung banyaknya, berkitar-kitar terbang di puncak pohon randu alas, di belakang surau Abah Lufti. Dalam sekejap, sangat cepat, burung-burung sriti itu hinggap di dahan dan ranting pohon randu alas. Tak lagi mengepakkan sayap. Tak lagi bercericit gaduh.
Sepasang kupu-kupu kuning terbang di atas kepala Ismail. Ulfa sangat gemas, ingin menangkap sepasang kupu-kupu itu. Selalu dilihatnya tiap pagi, diam-diam di kebun anggrek yang menyembunyikan wajah dan tubuhnya, kupu-kupu di atas kepala Ismail. Lelaki itu berangkat ke kantor. Berjalan kaki. Selalu berjalan kaki ke mana pun pergi. Dan sepasang kupu-kupu itu mengantarkannya menyusuri jalan berumput pada pagi berkabut, saat embun meraup tersengat matahari.
Abah Lufti diam-diam memperhatikan perilaku anak gadisnya. Sambil minum teh, menghisap pipa rokok, saat matahari menghangat, dia menemukan anak gadisnya turun ke kebun anggrek samping rumah, hanya untuk melihat Ismail. meninggalkan rumah, berjalan kaki, diiringi kupu-kupu. Mengapa sepasang kupu-kupu? Dalam jarak yang begitu jauh, sepasang kupu-kupu itu terus mengitari kepala Ismail.

Kepergok Abah Lutfi memasuki rumah, Ulfa tersipu-sipu. Terhenti. Menanti teguran.
“Apa Abah mesti menegur Ismail, bagaimana kelanjutan lamaran ayahnya dulu?”
“Biar Ismail sendiri yang menentukan,” tukas Ulfa tenang. “Abah jangan salah sangka. Aku cuma suka memandangi sepasang matanya. Sungguh aneh mata itu, selalu memancarkan alam yang lembut dan tanpa dendam. Aku suka memandanginya.”
Pandana Merdeka, Februari 2007

Kearifan Lokal

Posted in Pendapat on Juni 21, 2008 by lembarrenung

KEARIFAN LOKAL, ESTETIKA SASTRA,

DAN PENGAJARANNYA

Oleh S. Prasetyo Utomo

Teks sastra yang dicipta sastrawan dengan kearifan lokal, tidak hanya memberi nuansa sosial-budaya, tetapi juga mengekspresikan idiom-idiom istetika di dalamnya. Teks sastra tak dicipta dengan eksotisme semata-mata. Bukan hanya warna subkultur yang kuat mewarnai karya sastra, sebagaimana teks sastra dekade 80-an, tetapi juga berkembang eksplorasi bahasa dan style untuk mencapai nilai estetis.

Kearifan lokal tidak dengan sendirinya membentuk sastra lokal, yang diminati masyarakat setempat, dalam kurun waktu yang terbatas. Kearifan lokal yang menjadi obsesi sastrawan secara kontemplatif, bisa jadi teks sastra yang digemari pembaca secara lintas waktu. Begitu banyak teks sastra yang ditulis dengan kekuatan kearifan lokal serupa ini, dan menjadi bacaan yang tidak hanya laris, melainkan juga bermuatan nilai estetik.

Eksotisme kearifan lokal dalam teks sastra, bukan hanya menjadi obsesi para pengarang dunia ketiga seperti Indonesia, Filipina, Bangladesh, dan India. Kita mengenal teks sastra dari Jepang, Daerah Salju dan kumpulan cerpen Penari-penari Jepang karya Yasunari Kawabata yang kuat mengangkat kearifan lokal, menjadi teks sastra yang bermuatan nilai estetis. Tak mengerankan bila Yasunari Kawabata menerima hadiah sastra Nobel pada tahun 1968. Begitu pula dengan sastrawan Mesir, Naguib Mahfouz, dengan novelnya Lorong Midaq, menghadirkan kearifan lokal untuk mencapai nilai estetis dalam teks sastranya. Ia juga menerima hadiah sastra Nobel

***

ESTETIKA sastra yang diekspresikan sastrawan dari kearifan lokal, bagaimanapun mempunyai akar budaya penciptaan, yang memberi warna lain bagi teks sastra itu. Pada puisi-puisi Goenawan Mohamad, misalnya, kita temukan beberapa karya seperti “Dongeng Sebelum Tidur” dan “Asmaradana” tiada habis mengundang daya tarik dan tafsir pembaca.

Pada puisi-puisi Darmanto Jatman, kearifan lokal dieksplorasinya dalam teks sastra yang berakar sosio-kultural, filosafi, dan – dalam hal pemakaian bahasa – mengembangkan wacana keindonesiaan, dengan unsur daerah sebagai pemerkaya kosa kata. Ia menemukan idiom-idiom estetiknya sendiri, yang membedakannya dengan teks puisi karya penyair seangkatannya. Kejawaannya tak dilenyapkan, tetapi telah memerkaya ekspresi keindonesiaannya.

Dalam bidang novel, kita menemukan para sastrawan yang kembali pada akar tradisi masyarakatnya. Novel-novel Ahmad Tohari, Umar Kayam, Kuntowijoyo, Y.B. Mangunwijaya, dan Pramoedya Ananta Toer, kearifan lokal telah memberi warna pada struktur narasi: latar, penokohan, dan konflik cerita. Di samping itu, berkembang style para novelis yang menandai ekplorasi nilai estetisnya sendiri. Lahirlah novel-novel realis yang kontemplatif karya Ahmad Tohari, Umar Kayam, dan Pramoedya Ananta Toer, serta novel-novel satire Kuntowijoyo dan Y.B. Mangunwijaya.

Kearifan lokal berkembang sebagai estetika sastra yang menandai ketokohan para sastrawan dekade 80 hingga 90. Estetika sastra itu memberi orisionalitas penciptaan teks sastra mereka. Dari sinilah tercipta sejarah sastra, yang pada saat terjadi pergeseran nilai estetis dari masa ke masa, masyarakat pembaca masih terus memberikan apresiasinya.

***

PEMBELAJARAN sastra yang dilakukan secara kontekstual, dapat memanfaatkan teks-teks sastra dengan mempertimbangkan akar tradisi sosio-kultural masyarakat setempat. Siswa akan mempertajam pemaknaan dan penafsirannya terhadap kekuatan estetika sastra dan akar tradisi sosio-kultural yang menjadi ruh penciptaan dan struktur teks sastra. Karena itu, siswa tak akan terasing dari karya-karya sastra di lingkupnya sendiri.

Keuntungan lain, guru dapat melakukan pembelajaran apresiasi sastra untuk memberi kesadaran multikulturalisme pada siswa. Teks sastra yang dicipta dengan kearifan lokal dari berbagai latar sosio-kultural, bagi siswa, memberi empati pada kebhinekaan budaya.

Yang lebih penting dari itu, apresiasi sastra dikembalikan pada kekayaan tafsir siswa. Teks-teks sastra akan selalu hidup dalam pemaknaan dan penafsiran, dan menghindar dari pemaknaan tunggal. Horison pemahaman pembaca (siswa) akan terus berkembang, dan teks sastra akan selalu hidup dalam pemaknaan baru. Teks sastra tak akan pernah mati, karena penafsiran pembaca (siswa) selalu kaya fantasi untuk meangapresiasi lambang bahasa di dalamnya.

Bagi guru, pembelajaran apresiasi sastra yang bermuatan kearifan lokal ini memberi pembebasan jiwa bagi tafsir kurikulum. Beraneka ragam teks sastra, dan guru bisa memilih secara situasional, dan mengembangkan kemerdekaan jiwa untuk meretas pemasungan standarisasi isi (materi pembelajaran apresiasi sastra). Guru bisa berhadapan dengan teks sastra sebagai pembelajaran yang menyenangkan, penuh empati, dan bahkan bermain-main. Teks sastra dapat membongkar kebekuan daya cipta saswa, dan mengisinya dengan kesadaran sosio-kultural, bahkan humanisme.

Kearifan lokal sastrawan yang disertai dengan ekplorasi nilai estetis, menghasilkan teks sastra yang bermutu dan otentik. Apresiasi sastra pun meminta kearifan guru untuk menumbuhkan kesadaran akan nilai estetika, pengembangan sosok pribadi yang berkarakter dan manusiawi.

***

*) S. Prasetyo Utomo, cerpenis, pemerhati sastra, tinggal di Semarang.