Kearifan Lokal
KEARIFAN LOKAL, ESTETIKA SASTRA,
DAN PENGAJARANNYA
Oleh S. Prasetyo Utomo
Teks sastra yang dicipta sastrawan dengan kearifan lokal, tidak hanya memberi nuansa sosial-budaya, tetapi juga mengekspresikan idiom-idiom istetika di dalamnya. Teks sastra tak dicipta dengan eksotisme semata-mata. Bukan hanya warna subkultur yang kuat mewarnai karya sastra, sebagaimana teks sastra dekade 80-an, tetapi juga berkembang eksplorasi bahasa dan style untuk mencapai nilai estetis.
Kearifan lokal tidak dengan sendirinya membentuk sastra lokal, yang diminati masyarakat setempat, dalam kurun waktu yang terbatas. Kearifan lokal yang menjadi obsesi sastrawan secara kontemplatif, bisa jadi teks sastra yang digemari pembaca secara lintas waktu. Begitu banyak teks sastra yang ditulis dengan kekuatan kearifan lokal serupa ini, dan menjadi bacaan yang tidak hanya laris, melainkan juga bermuatan nilai estetik.
Eksotisme kearifan lokal dalam teks sastra, bukan hanya menjadi obsesi para pengarang dunia ketiga seperti Indonesia, Filipina, Bangladesh, dan India. Kita mengenal teks sastra dari Jepang, Daerah Salju dan kumpulan cerpen Penari-penari Jepang karya Yasunari Kawabata yang kuat mengangkat kearifan lokal, menjadi teks sastra yang bermuatan nilai estetis. Tak mengerankan bila Yasunari Kawabata menerima hadiah sastra Nobel pada tahun 1968. Begitu pula dengan sastrawan Mesir, Naguib Mahfouz, dengan novelnya Lorong Midaq, menghadirkan kearifan lokal untuk mencapai nilai estetis dalam teks sastranya. Ia juga menerima hadiah sastra Nobel
***
ESTETIKA sastra yang diekspresikan sastrawan dari kearifan lokal, bagaimanapun mempunyai akar budaya penciptaan, yang memberi warna lain bagi teks sastra itu. Pada puisi-puisi Goenawan Mohamad, misalnya, kita temukan beberapa karya seperti “Dongeng Sebelum Tidur” dan “Asmaradana” tiada habis mengundang daya tarik dan tafsir pembaca.
Pada puisi-puisi Darmanto Jatman, kearifan lokal dieksplorasinya dalam teks sastra yang berakar sosio-kultural, filosafi, dan – dalam hal pemakaian bahasa – mengembangkan wacana keindonesiaan, dengan unsur daerah sebagai pemerkaya kosa kata. Ia menemukan idiom-idiom estetiknya sendiri, yang membedakannya dengan teks puisi karya penyair seangkatannya. Kejawaannya tak dilenyapkan, tetapi telah memerkaya ekspresi keindonesiaannya.
Dalam bidang novel, kita menemukan para sastrawan yang kembali pada akar tradisi masyarakatnya. Novel-novel Ahmad Tohari, Umar Kayam, Kuntowijoyo, Y.B. Mangunwijaya, dan Pramoedya Ananta Toer, kearifan lokal telah memberi warna pada struktur narasi: latar, penokohan, dan konflik cerita. Di samping itu, berkembang style para novelis yang menandai ekplorasi nilai estetisnya sendiri. Lahirlah novel-novel realis yang kontemplatif karya Ahmad Tohari, Umar Kayam, dan Pramoedya Ananta Toer, serta novel-novel satire Kuntowijoyo dan Y.B. Mangunwijaya.
Kearifan lokal berkembang sebagai estetika sastra yang menandai ketokohan para sastrawan dekade 80 hingga 90. Estetika sastra itu memberi orisionalitas penciptaan teks sastra mereka. Dari sinilah tercipta sejarah sastra, yang pada saat terjadi pergeseran nilai estetis dari masa ke masa, masyarakat pembaca masih terus memberikan apresiasinya.
***
PEMBELAJARAN sastra yang dilakukan secara kontekstual, dapat memanfaatkan teks-teks sastra dengan mempertimbangkan akar tradisi sosio-kultural masyarakat setempat. Siswa akan mempertajam pemaknaan dan penafsirannya terhadap kekuatan estetika sastra dan akar tradisi sosio-kultural yang menjadi ruh penciptaan dan struktur teks sastra. Karena itu, siswa tak akan terasing dari karya-karya sastra di lingkupnya sendiri.
Keuntungan lain, guru dapat melakukan pembelajaran apresiasi sastra untuk memberi kesadaran multikulturalisme pada siswa. Teks sastra yang dicipta dengan kearifan lokal dari berbagai latar sosio-kultural, bagi siswa, memberi empati pada kebhinekaan budaya.
Yang lebih penting dari itu, apresiasi sastra dikembalikan pada kekayaan tafsir siswa. Teks-teks sastra akan selalu hidup dalam pemaknaan dan penafsiran, dan menghindar dari pemaknaan tunggal. Horison pemahaman pembaca (siswa) akan terus berkembang, dan teks sastra akan selalu hidup dalam pemaknaan baru. Teks sastra tak akan pernah mati, karena penafsiran pembaca (siswa) selalu kaya fantasi untuk meangapresiasi lambang bahasa di dalamnya.
Bagi guru, pembelajaran apresiasi sastra yang bermuatan kearifan lokal ini memberi pembebasan jiwa bagi tafsir kurikulum. Beraneka ragam teks sastra, dan guru bisa memilih secara situasional, dan mengembangkan kemerdekaan jiwa untuk meretas pemasungan standarisasi isi (materi pembelajaran apresiasi sastra). Guru bisa berhadapan dengan teks sastra sebagai pembelajaran yang menyenangkan, penuh empati, dan bahkan bermain-main. Teks sastra dapat membongkar kebekuan daya cipta saswa, dan mengisinya dengan kesadaran sosio-kultural, bahkan humanisme.
Kearifan lokal sastrawan yang disertai dengan ekplorasi nilai estetis, menghasilkan teks sastra yang bermutu dan otentik. Apresiasi sastra pun meminta kearifan guru untuk menumbuhkan kesadaran akan nilai estetika, pengembangan sosok pribadi yang berkarakter dan manusiawi.
***
*) S. Prasetyo Utomo, cerpenis, pemerhati sastra, tinggal di Semarang.
Juli 26, 2008 pada 6:31 am
Ok tu..mau tanya, saya mengajar mapel bahasa indonesia SMP..
mau tanya..
1. bagaimana model-model permainan yang bisa diterapkan sebagai kearifan lokal dalam pembelajaran di daerah kami (Banjarnegara-Jawa tengah)..
2. apakah pemanfaatan dongeng/legenda yang berasal dari daerah merupakan suatu bentuk kearifan lokal?
trims atas jawaannya