PASAR MINGGU PAGI SIMPANG LIMA
Harjito
INGAT Semarang ya ingat Simpang Lima. Bagi saya SPA, selain bermakna Semarang Pesona Asia, juga memiliki arti lain yaitu Simpanglima Pesona Asia.
Simpang Lima sungguh tak asing bagi warga Semarang. Jika Anda termasuk kalangan yang sangat sibuk sehingga tidak punya waktu untuk sedikit menghirup udara segar Lapangan Pancasila, sesekali sempatkanlah sekedar jalan-jalan ke sana sebagai salah satu cara memperingati hari jadi kota Semarang ke- 461.
Sore, di hari biasa, kadang ada beberapa anak-anak main sepakbola di Lapangan Pancasila. Malam tahun baru? Jangan harap bisa ke sana kalau telah melewati pukul 19.00. Saya pernah ke luar rumah jam 17.30 hendak sekedar iseng ke sana. Ternyata, sudah berduyun-duyun anak muda alias abg dalam dandanan yang warna-warni menyerbu kawasan tersebut. Luar biasa magnet yang memancar dari Simpang Lima Semarang.
Pasar Minggu Pagi
GAMBARAN kota bagi orang Jawa pada masa lalu terdiri atas perkantoran, untuk mengurus adminstrasi pemerintahan, pusat keramain, dan pasar. Sekarang Semarang dalam pertumbuhan menjadi masyarakat modern dan masih menyisakan beberapa kebudayaan tradisional.
Tumbuhnya Hotel Ciputra dan Citraland, Pusat Perbelanjaan Matahari, Ramayana, Court, atau bioskop Plaza. menandai perkembangan. itu bersamaan dengan dibutuhkannya pasar tradisional. Pasar Minggu pagi di Simpang Lima mewakili kebutuhan masyarakat akan pusat keramaian dan pasar tradisional
Malam Minggu dan minggu pagi merupakan hari yang sibuk di Simpang Lima. Di malam minggu, mulai sore denyut kehidupan sudah terasa. terutama manakala ada tontonan. Semua orang tumpah ruah memadatinya. Dari mulai yang jalan kaki sampai naik mobil. Terutama pengendara motor. Sepanjang Jalan Pahlawan anak-anak muda kongkow melepas kepenatan.
Keramaian tadi berlanjut sampai minggu pagi sekitar jam 8. Simpang Lima memang berubah menjadi pasar malam sekaligus pasar pagi. Segala macam barang bertaburan. Dari mulai yang sepele sampai kasur busa atau kendaraan bermotor mencoba keberuntungan.
Pakaian anak-anak, pakaian dalam perempuan, sepatu, campur aduk dengan penjual pigura, majalah bekas, termasuk penjual makanan atau tanaman. Jual racun tikus pun ada. Seingat saya seorang laki-laki muda.
Seorang tetangga, guna meredakan rengekan sang anak, menyempatkan naik kereta kuda. “Daripada ke Bandungan, Mas, ” tuturnya. Atau sekedar mencari binatang piaraan ikan, kura-kura, atau kelinci, mampir saja ke pasar minggu pagi di Simpang Lima.
Pengalaman pribadi yang berkesan adalah buku murah dan kaset. Saya mendapatkan kaset asli Leo Kristi Nyanyian Fajar dan Nyanyian Malam dengan harga yang boleh dikata murah. Juga kaset dagelan mataraman Basiyo dan Junaedi. Seorang sahabat baru saja memperoleh buku karya Soekarno Di bawah Bendera Revolusi, juga dengan harga yang relatif terjangkau.
Untuk buku ini, memang kita harus datang agak pagi karena beberapa pelanggan tetap juga suka berburu buku bagus dengan harga murah. Majalah dan tabloid bekas tinggal mencarinya di beberapa tempat.
Sebagaimana pasar tradisional, daya tariknya adalah kepandaian tawar-menawar di sela-sela keramaian dan senggol menyenggol dengan pengunjung lain. Kita mesti rela berdesak-desakan dengan pengunjung lain. Dari sentuhan parfum mahal sampai bau keringat sehabis lari pagi, dan ternyata asyik juga.
Wisata Belanja
PASAR Minggu pagi di Simpang Lima sebagai sarana interaksi serta hiburan keluarga dan masyarakat selayaknya diperhatikan Pemerintah Kota Semarang dalam mengelola kawasan Simpang Lima.
Harusnya pasar Minggu pagi ini tidak hanya dilihat sebagai kesemrawutan belaka namun juga harus ditangkap sebagai potensi. Pola pemikiran yang mendasari anggapan bahwa pasar Minggu pagi Simpang Lima sebagai kesemrawutan karena menganggapnya tidak sinergi dengan pembangunan yang lain.
Mengkaitkannya dengan Tahun Wisata, sebagaimana dimaklumi, pariwisata bukanlah program seketika. Dibutuhkan kesadaran terus-menerus dari semua pihak. Yang paling utama, kesadaran ini bukan hanya keinginan sepihak dari Pemkot, tetapi juga dirasakan kebutuhannya oleh segenap masyarakat.
Sebagai tempat wisata belanja semacam Malioboro Yogyakarta, kawasan Simpang Lima sangat cocok. Dapat kita rancang mulai seputar Simpang Lima, dilanjutkan ke Jalan Pandanaran, sampai dengan depan Toko Merbabu, belok kiri ke Jalan Pandanaran II, terus melingkar ke sebagian jalan Pahlawan dan balik kembali ke Simpang Lima.
Alternatif lain, dari Simpang Lima berlanjut ke Jalan Pandanaran sampai dengan Tugu Muda. Memang diperlukan peningkatan pembenahan, misalnya, pedagang-pedagang yang menjajakan barang-barang souvenir yang bercorak serta berciri Semarang atau Jawa Tengah. Kebersihan, keamanan, tempat parkir merupakan faktor lain karena menimbulkan kenyamanan dan nilai lebih kepada para pengunjung.
Sesudah jalan-jalan di pasar tradisional, para pengunjung dapat melanjutkannya ke mal atau hotel. Begitu juga sebaliknya. Antara mal dan pasar tradisional tidak harus saling meniadakan satu sama lain, tetapi justru bisa saling bersinergi.
Ingat Semarang ya ingat Simpang Lima.
*******
Drs. Harjito, M.Hum, Ketua Program Studi Pend. Bhs. & Sastra Indonesia IKIP
PGRI Semarang.
Alamat kantor: Jl. Lontar no. 1 Semarang 50242. Hp 081 2251 9899
Email : harjitoian@yahoo.co.id ; harjitoian@gmail.com