RUANG PUBLIK

RUANG EKSOTIK POLDER TAWANG

Harjito

 

Ke mana keluarga Anda mengici acara liburan sekolah? Cobalah merasakan malam hari di  Polder Tawang Semarang.

Polder Tawang berada di Kawasan Kota Lama.  Diharapkan Polder Tawang sebagai tempat wisata air. Air dengan gemericiknya adalah sesuatu yang menenangkan sekaligus membawa aura kesejukan.

Polder atau  kolam raksasa Tawang terletak persis di depan Stasiun Tawang.  Menurut fungsinya Polder Tawang merupakan suatu sistem untuk memproteksi air limpahan dari luar kawasan dam mengendalikan muka air yang berada di Kota Lama. untuk mengurangi genangan air atau banjir atau rob.

Polder dipasangi pompa air yang dihubungkan pada saluran air di perkampungan. Begitu rob meninggi, air dibuang ke saluran menuju pantai. Luasnya kira-kira 1 hektar dengan daya tampung 30.000 m3.

 

Keheningan

SEBUAH kota, menurut Wijanarka, disebut demokratik jikalau memiliki ruangan yang disebut ruang publik (publik space). Ruang publik, dalam sejarah kota,  sudah ada sejak zaman Romawi yaitu  abad 2 SM yang merupakan kerajaan demokrasi.

Dalam ruang publik masyarakat kota dapat menyampaikan pendapat maupun kritik terhadap seseorang yang sedang berkuasa melalui anggota senat kerajaan. Dalam perkembangannya, ruang demokrasi yang dikenal dengan roman forum di abad pertengahan  menjadi square, di zaman renaisance  menjadi piazza. Kini menjadi ruang-ruang kota yang berfungsi sebagai ruang publik.

Artinya, ruang pun berkembang bukan hanya berfungsi sebagai ruang demokrasi. Namun, juga sebagai tempat bertemu, berinteraksi, atau ngrasani-nya masyarakat guna melakukan kontak sosial, berolahraga, berekreasi, bahkan berpolitik. 

Keberadaan Polder Tawang di depan stasiun Kereta Api Tawang sangatlat strategis. Dengan jumlah penumpang kereta yang turun dan naik, Polder Tawang dapat menjadi area singgah sejenak atau semacam ruang tunggu untuk melepas lelah. Fasilitas MCK, mandi cuci kakus, cukup memadai untuk masyarakat yang “gampang pipis”.

Polder Tawang berada di Kawasan Kota Lama yang dipersiapkan sebagai area city walk, dimana masyarakat dapat berjalan kaki dengan nyaman. City walk semestinya merupakan  surga bagi para pejalan kaki. Di sisi lain, city walk berguna untuk mengurangi kepadatan lalu lintas.

Masuk city walk kota lama, malam hari, dari jalan Mataram ke jalan Merak menyaksikan gedung-gedung tua peninggalan zaman Belanda seperti menyusuri lorong waktu. Yang paling seketika terasa adalah kesenyapan dan keheningan. Begitu pula kalau kita menyisir jalan Pemuda dan melalui  Jembatan mBerok.

 Memandang Stasiun Tawang dari seberang polder, sore hari, langit berwarna biru kemerahan.  Lambat laun malam mulai merapat. Gemericik air dari beberapa pancuran membuat suasana romantis. Jalan dengan pasangan  paving block memberi nuansa syahdu dibandingkan jalan beraspal.

Tak heran banyak remaja berpasangan bersendau gurau di bangku-bangku semen yang telah tersedia. Beberapa keluarga juga memanfaatkannya. Termasuk generasi kakek nenek kita. Kadang ada dua mobil. Agak berjauhan. Masing-masing dengan player organ dan penyanyi lokal mendendangkan lagu-lagu.

Penonton bisa dihitung dengan jari tangan. Tidak seperti pertunjukkan dangdut yang sering ribut, di sini jauh dari pertengkaran. Beberapa anak-anak naik sepeda berputar-putar penuh ceria.

 

Eksotik

KENYAMANAN di polder Tawang belumlah mencapai taraf surga. Semarang dikenal dengan kota atas dan kota bawah. Polder Tawang berada di kota bawah.

Sudah menjadi rahasia umum, kota bawah terkenal panas. Gangguan berikutnya berupa bau air polder yang seringkali menyengat hidung.  Karenanya, Polder Tawang di Kawasan Kota Lama perlu ditingkatkan lagi penampilannya.

Pertama, saya merasakan taman bermain terlalu sempit. Anak-anak tidak dapat bermain dengan leluasa. Alat-alat permainan juga kurang. Hanya tersedia 3 ayunan, 1 timbangan jungkat-jungkit, dan 1 alat panjat setengah lingkaran. Di area ini tak ada tempat duduk untuk orang tua yang hendak menunggui putra-putrinya.

Padahal, karakter wisata orang Semarang adalah dengan mengajak keluarga, bukan sendirian. Karena kurang luas, jalan yang terletak di antara taman dan gedung kantor Perum Kereta Api Daerah Operasi 4 Semarang acap dijadikan lapangan sepak bola bagi anak-anak  SD.

Kedua, penambahan pohon untuk menghijaukan sekaligus menyejukkan. Beberapa pohon palem menurut saya tidak cocok untuk kondisi Semarang. Palem memang indah dilihat tetapi tidak meneduhkan. Bumi Indonesia memiliki dua musim yang berbeda dengan Eropa atau Amerika. Keteduhan jauh lebih dibutuhkan di Semarang.  

Ketiga, Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) perlu lebih menggalakkan  kegiatan-kegiatan di Polder Tawang. Tidak harus besar. Boleh juga kegiatan kecil, seperti lomba joging, jalan sehat, senam, atau sepeda santai  terutama di pagi atau sore hari. Di pagi hari tiupan angin yang meriakkan air polder sanggup melenakan mata menjadi mengantuk.

Semburan cahaya yang memancar dari lampu, sinar bulan selepas sore, aroma gedung-gedung tua peninggalan Belanda, semilir angin, dan keheningan riak-riak air pastilah memikat keluarga kita. Polder Tawang adalah ruang publik eksotik yang akan menambah semarak ikon kota Semarang.

 

*******

Drs. Harjito, M.Hum, Ketua Program Studi Pend. Bhs. & Sastra Indonesia IKIP

PGRI  Semarang.

Alamat kantor: Jl. Lontar no. 1 Semarang 50242. Hp 081 2251 9899

Email    : harjito96@yahoo.co.id  ; harjitoian@gmail.com     

Tinggalkan Balasan